CILEUNGSI, BOGOR, BRAVO-IDN | Sorotan tajam tertuju pada aktivitas proyek pengurugan tanah di kawasan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sabtu, (20/06/2026).
Lalu lalang puluhan armada dump truck pengangkut tanah merah kini menuai keluhan hebat dari para pengguna jalan. Pasalnya, selain memicu polusi debu yang pekat, operasional proyek ini diduga kuat mengabaikan Standar Operasional Prosedur atau SOP keselamatan kerja.
Aktivitas kendaraan berat pengangkut tanah merah yang keluar masuk dari area gang dekat Situ Tunggilis, Desa Jatisari, menuju Desa Situsari ini dilaporkan telah berlangsung selama beberapa pekan. Tingginya mobilitas armada ini memicu debu tebal yang langsung berdampak pada menurunnya jarak pandang dan konsentrasi para pengendara, khususnya roda dua.
”Sangat terganggu mas, konsentrasi jadi pecah karena debunya sering terhirup. Kalau lupa pakai helm atau gak bawa kacamata, mata langsung kelilipan dan perih.”keluhnya salah satu pengguna jalan.

Berdasarkan pantauan langsung tim media di lapangan, ditemukan sejumlah kejanggalan terkait aspek keselamatan. Di sekitar lokasi proyek pembangunan perumahan ini, sama sekali tidak ditemukan adanya rambu-rambu peringatan proyek maupun penerapan SOP keselamatan kerja yang memadai bagi publik.
Ironisnya, saat awak media melakukan upaya konfirmasi, pihak pengawas lapangan atau ceker proyek sempat enggan memberikan informasi secara transparan. Petugas yang menolak disebutkan namanya tersebut justru berdalih bahwa proyek perumahan ini merupakan bagian dari program perumahan Presiden Prabowo Subianto.
“Ini proyek perumahan program presiden”,katanya.
Sorotan tajam juga mengarah pada ceker dilokasi, Ia dengan gamblang memaparkan bahwa merasa resah awak media sering berdatangan kelokasi proyek, “Media lagi aja, Siang Ini sudah 5 orang wartawan (media) yang datang”,Keluhnya salah satu pekerja yang mengaku Ceker pada Sabtu (20/06).
Tak hanya itu, sorotan lainnya mengarah pada metode penanganan dampak lingkungan oleh pihak pengelola. Upaya penyemprotan jalan yang dilakukan dari depan Kantor Desa Cipeucang hingga ke lokasi proyek dinilai keliru. Air disemprotkan tanpa adanya pembersihan sisa tanah terlebih dahulu, yang justru mengubah debu menjadi lapisan lumpur tipis yang membuat aspal menjadi sangat licin dan rawan memicu kecelakaan fatal.
Menanggapi pembiaran ini, pengamat publik, Ramadhan, angkat bicara secara tegas. Dirinya meminta instansi terkait dan penegak hukum segera turun tangan mengevaluasi izin operasional proyek tersebut.”ungkapnya
Lanjutnya, “Para pihak yang terlibat jangan menganggap sepele masalah ini. Kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan dan nyawa warga harus diutamakan di atas keuntungan bisnis. Jangan menunggu sampai ada korban jiwa jatuh di jalanan tersebut. Jika itu terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab?”,Tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, awak media akan terus berupaya meminta konfirmasi resmi dari pihak pengembang perumahan serta dinas perhubungan setempat terkait tindakan tegas atas pelanggaran kenyamanan publik ini.
(iel)






